Puisi dan Senja

Senja bukan hanya pertanda hari yang telah usai, ia juga adalah rumah tempat bercerita. Tempat puisi menetap dan sajak paling sunyi di lahirkan.

Opini

Ide itu juga mahkluk hidup, perlu di rawat dan di asah. Menulis adalah salah satu cara paling ideal untuk menjaganya tetap hidup.

Journey

Perjalanan bukan hanya tentang jejak yang tertinggal, tapi ia juga adalah kenangan yang tetap hidup. Setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk mengabadikan setiap perjalanan dalam hidupnya. Aku memilih menulis!

Social and Politics

Politik itu akan membunuh jika kita acuh tak acuh terhadapnya, tapi ia akan menjadi peta keadilan sosial jika kita memahaminya dengan baik. Kekuasaan tidak akan berkuasa seenaknya jika setiap mahkluk sosial memiliki peran dan peduli dalam setiap agenda politik. Harmonisasi kehidupan sosial adalah tujuan utama politik. Bukan kekuasaan!

Religion and Culture

Agama dan budaya adalah perpaduan. Beberapa orang sering menganggapnya bertentangan, tetapi agama dan budaya justru menjadi benda paling purba yang melekatkan manusia pada karakteristik dan nilai dalam kehidupan.

Rabu, 24 Agustus 2022

Bahasa Semesta

 

Telah ku saksikan awan tebal
Bagai tabir menyelimuti langit yang ramah
dan purnama...
Seolah enggan memberi sedikit saja senyuman
Bintang-bintang menangis hinggga berbinar
Cahayanya redup dan membisu
 
Dan angin,
Terus berhembus menyiksa tubuhku yang malang
Malam semakin membeku dan menusuk
 
Ku peluk tubuh sendiri
Disudut malam yang sepi
Disudut hamparan bumi yang lapang
 
Dan semesta,
Seolah mengerti keluhan ini
Dari setiap bahasa yang ia utarakan
Bermeditasi aku dengannya
Ia menghadirkan jelmaan bayanganmu
Dalam ribuan titik cahaya di bumi, malam ini;
 
Pada akhirnya,
Aku mulai mengerti
Mengapa purnama itu enggan tersenyum
Mengapa bintang-bintang itu menangis hingga berbinar
 
Iya,
Sebab, mereka mengerti..
 
Kekasih,
Ku utarakan perasaanku ini
Melalui bahasa semesta yang lembut dan damai
Ku harap kau mengerti;
Hadirmu, mampu menghapus segala kesedihan yang menyayat hati…


Penulis : Indra Fuadi

Kamis, 17 Februari 2022

Sisi Sosiosentrisme Dakwah Hari Ini

Dakwah merupakan salah satu aktivitas sosial yang erat kaitannya dengan penyebaran nilai-nilai agama. Dapat dipahami bahwa dakwah lahir dari satu kesadaran seorang individu dalam suatu masyarakat yang telah mendalami ilmu agama kemudian mengajarkan apa yang dipahami itu kepada masyarakat. Aktivitas pengajaran nilai-nilai agama inilah yang disebut dengan dakwah. Hakikat dakwah pada dasarnya ialah menyebarkan kebaikan yang dipondasikan dengan satu kepahaman yang utuh dan terstruktur kemudian disampaikan dengan penuh kehalusan dan menciptakan kedamaian. Maka poin yang dapat dipahami dari aktivitas dakwah ini ialah menciptakan ketenangan, kedamaian, kerukunan dan menjauhkan masyarakat dari konflik sosial tanpa memandang status seorang individu atau kelompok dalam suatu masyarakat berdasarkan status pendidikan, status ekonomi terlebih status organisasi yang melekat pada satu kelompok tersebut. Namun, tidak sedikit kita saksikan dakwah yang seharusnya menjadi sumber kedamain tetapi justru menjadi sumber provokasi, menyinggung kelompok ini dan kelompok itu, membanggakan kelompok sendiri, menyampaikan narasi-narasi yang merusak harmonisasi sosial, saling sindir lantaran berbeda pendapat dan banyak lagi hal lainnya.

Fenomena-fenomena itulah yang menjadikan aktivitas dakwah hari ini tidak hanya bisa dipandang dari satu sudut pandang saja karena ada banyak hal yang dibenturkan dalam aktivitas berdakwah. Seperti halnya, dakwah dibenturkan dengan adanya kepentingan identitas, membawa kepentingan kelompok, menyinggung kelompok lain bahkan tidak sedikit kita temukan para pendakwah membuat lingkaran mereka sendiri yang membuat ruang-ruang berpendapat menjadi sangat terbatas. Tentu fenomena seperti ini tidak akan baik bagi perkembangan dakwah kedepannya yang sejatinya mencita-citakan nilai-nilai kebaikan dan kedamaian agar tetap tertanam kuat dalam kehidupan sosial masyarakat. Maka menjadi suatu kewajiban bagi seorang pendakwah untuk tetap menjaga kondisi ini tetap stabil demi mewujudukan esensi dakwah itu sendiri.

Dalam satu kajian sosial fenomena dakwah hari ini memiliki sisi sosiosentrisme. Fenomena sosiosentrisme dalam kehidupan sosial saat ini sangat banyak sekali kita jumpai. Fenomena ini merupakan suatu kecendrungan sebuah kelompok sosial yang menganggap kelompoknyalah yang paling baik lalu kemudian mendiskriminasi kelompok sosial yang lain. Sehingga perspsektif yang terbangun dalam masyarakat ialah adanya kepentingan identitas dan mengesampingkan kelompok yang berada diluar kelompoknya, meskipun pada umumnya setiap kelompok sosial memiliki cita-cita serupa yang bermuara pada satu kebaikan. Jika dikaji lebih mendalam fenomena sosiosentrisme inilah muara dari sifat-sifat fanatisme terhadap kelompok sosial masing-masing yang hari ini banyak terjadi pada organisasi sosial kemasyarakatan.

Adanya sifat mementingkan kelompok sosial ini memberikan dampak terhadap nilai-nilai dakwah yang seharusnya terbebas dari kepentingan identitas dan tetap mempertahankan esensi dakwah yang sebenarnya yaitu membawa kebaikan dan kedamaian baik secara spiritual ataupun sosial. Hemat penulis mengatakan, tersentuhnya nilai dakwah oleh fenomena sosiosentrisme ini sangat besar kemungkinannya ialah karena para pendakwah banyak yang lahir dari sebuah organisasi sosial kemasyarakatan. Sehingga sifat-sifat group interest dalam diri seorang pendakwah itu terbangun dengan sendirinya. Analisis tentang kondisi sosial seperti ini bukannya tidak memiliki dasar pemikiran yang kuat melainkan dalam perspektif social analysis kondisi sosial seperti ini merupakan suatu bentuk kondisi yang melahirkan potensi konflik pada masyarakat terjadi karena adanya struktur sosial yang secara massif terbentuk.

Dalam ilmu sosial hal ini disebut dengan struktural konflik yaitu terjadinya suatu konflik dalam masyarakat disebabkan karena semakin banyaknya struktur sosial yang terbentuk. Banyaknya struktur sosial dalam masyarakat menjadikan setiap struktur sosial memliki kepentingan dan tujuan masing-masing. Dan karena adanya kepentingan dan tujuan kelompok inilah awal mula dari potensi konflik itu semakin besar terjadi dalam sebuah masyarakat. Dalam hal ini, strukrur sosial yang dimaksud ialah termasuk didalamnya organisasi sosial kemasyarakatan. Dalam konteks ini yang menjadi central kajiannya ialah organisasi sosial kemasyarakatan yang fokusnya ialah pada penyebaran nilai-nilai keagamaan. Hal inilah yang akan terjadi jika dakwah terbentur dengan sifat-sifat sosiosentrisme dalam kehidupan sosial masyarakat.

Dakwah sebagai penjaga harmonisasi sosial

Dakwah memang saharusnya melahirkan harmonisasi sosial, menciptakan ketentraman umat beragama, menjaga toleransi, tidak merusak kultur dan adat istiadat masyarakat yang telah lama berkembang dan dakwah harus terus disampaikan menyesuaikan dengan kondisi dan mental sosial masyarakat. Dakwah tidak boleh dibingkai dalam sebuah identitas kelompok karena hal itu hanya akan melahirkan sumber-sumber fanatisme yang berujung pada disharmoni sosial. Hari ini banyak fenomena yang menunjukkan kecendrungan dalam menyampaikan dakwah lebih memperhatikan kepentingan organisasi daripada fokus pada esensi dakwah itu sendiri.

Maka, dalam merespon kondisi sosial seperti ini tentunya setiap elemen masyarakat harus sadar dan cermat dalam menyerap setiap dakwah yang disampaikan. Ketika dakwah tidak lagi pada nilai dan esensinya sudah seharusnya masyarakat tidak mengikuti apa yang disampaikan itu demi menjaga harmonisasi sosial.

Inti pesan yang ingin disampaikan dalam tulisan ini ialah penulis ingin mengajak semua elemen untuk sadar dan mencermati kembali dengan kapasitas keilmuan masing-masing bahwa dakwah memiliki nilai dan esensi tersendiri, yang dimana nilai dan esensi itu adalah menjaga harmonisasi sosial masyarakat. Maka sudah seharusnya dakwah tidak boleh lagi dibenturkan dengan narasi-narasi provokatif, unsur-unsur dakwah tidak boleh dibatasi hanya dengan membanggakan kelompoknya sendiri dan dakwah harus tetap pada koridor keilmuan yang disampaikan dengan penuh kepahaman dan kemengertian serta dalam proses penyampaiannya hal yang paling utama adalah mengharapkan ridho dari Allah Swt.


Penulis : Indrawan Nur Fuadi

Sabtu, 31 Juli 2021

Rindu Yang Membiru


Malam terasa semakin kelam
Sunyi dan sepi berbisik melalui angin
Bertanya, siapa yang ku rindukan malam ini?
Seolah mengerti jeritan hati
 
Dingin kian menduri
Tubuh tercekik malam yang sunyi
Dan hujan… mulai berjatuhan membasahi seisi bumi
Tanah dan dedaunan menjelma petrikor dalam sesaat
Aroma khas milik hujan,
mencipta pusaran renjana yang dalam
 
Jendela kubiarkan saja terbuka
Aku ingin menyatu dengan malam
Mencairkan rindu yang membeku melalui hujan
Sembari bercerita tentang hatiku yang redup ini
Seperti lampu jalan yang tampak semakin temaram itu
 
Betul saja, angin menyapa,
Menyelinap disela-sela jendela
Kupeluk tubuh sendiri,
dan rindu… terlalu menyakitkan untukku
Walau semesta telah berkonspirasi malam ini
Sebagai angin, hujan, gemuruh dan lampu-lampu temaram.. 
mencoba memberi kedamaian
Namun, rindu terlalu menusuk dan tersesat!
Kau begitu jauh, tak tergapai
Walau segala tentangmu melekat pada inti hatiku
Aku bisu dan membiru!

Minggu, 14 Maret 2021

Asa

 

Hamparan laut dalam
Membelah segala angan dan sejuta ingin
Tentang dirimu dan asa yang membiru
Engkau hidup dalam setiap aliran darahku
Menyatu dalam denyut nadiku
Menghegemoni setiap detak jantungku
Mencekikku dalam rindu yang bisu
 
Aku…
dan segala pengharapan akan dirimu
Selamanya diam…
Selamanya kaku…
Selamanya tabu…

Sabtu, 31 Oktober 2020

Bela Nabi, Bersatu Lawan Radikalisasi Agama

Saya ingin memulai tulisan ini dengan mengucapkan “allahummashollia’ala Muhammad waala alisayyidina Muhammad”. Semoga kita senantiasa dalam lindungan Allah Swt dan kelak mendapat syafaat dari baginda Rasullullah Muhammad Saw. Aamiin

Baru-baru ini umat islam dihebohkan oleh pernyataan Presiden Prancis Emanuel Macron yang telah melakukan penghinaan terhadap Nabi Muhammad Saw. Sebagaian besar pandangan dari berbagai Negara diseluruh dunia khususnya negara muslim menyebut tindakan Presiden Prancis ini adalah bentuk pelecehan terhadap umat Islam diseluruh dunia. Pernyataan Presiden Prancis ini pun langsung mendapat respon yang tegas dari negara-negara muslim didunia hingga sampai pada pemboikotan produk-produk buatan Prancis. Tidak terkecuali Indonesia, Presiden Jokowi Widodo turut mengecam keras pernyataan Presiden Prancis tersebut dan mengajak negara diseluruh dunia untuk tetap menjaga kedamaian dan toleransi antar agama serta fokus dan bersatu melawan Covid-19 yang sampai saat ini masih menjadi permasalahan global yang belum teratasi.

Beragam sudut pandang mulai berkeliaran akibat pernyataan Macron yang telah mengina Nabi Muhammad Saw. Pernyataan itu dinilai dapat memecah keharomonisan umat beragama diseluruh dunia dan sangat berpotensi menimbulkan konflik horizontal antara negara muslim dan non muslim. Penghinaan terhadap Nabi Muhammad Saw ini sebetulnya bukan kali pertamanya terjadi, bahkan umat islam selalu dikaitkan sebagai kelompok yang menyebarluaskan ideologi ekstrimis. Tentu hal ini menimbulkan kegeraman bagi umat islam diseluruh dunia. Tidak hanya itu, pelecehan terhadap simbol agama ini juga akan berdampak pada keharmonisan beragama yang selama ini sudah cukup berjalan dengan baik, dan akan sangat memungkinkan untuk terpecah belah kembali.

Radikalisasi agama bukan merupakan hal baru yang dihadapi dunia belakangan ini. Perang atas nama agama masih berlanjut hingga saat ini. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah mengapa umat islam yang selalu diklaim sebagai pembawa paham ekstrimis. Agama islam selalu disudutkan dengan penyataan-pernyataan yang melecehkan agama islam itu sendiri, bahkan islam selalu diklaim sebagai agama teroris. Apa yang terjadi sekarang ini telah secara terangan-terangan merusak citra islam yang dikenal sebagai pembawa kedamaian, agama islam telah di perkosa kesuciannya. Oleh karena itu, jika kita berbicara soal radikalisasi agama, maka agama yang selalu menjadi korban tindakan radikal itu adalah islam itu sendiri. Itu adalah bentuk tindakan radikalisasi agama yang nyata bahkan lebih nyata dari tindakan terorisme. Islam telah di framing menjadi sesuatu yang menyeramkan, sesuatu yang membunuh, tidak kenal ampun, intoleran, eksklusif dan segala hal yang membuat orang takut kepada Islam. Hanya dengan asumsi ‘kebebasan berpendapat’ bukan berarti diperbolehkan menistakan agama manapun didunia ini.

Nabi Muhammad merupakan iconic yang menjadi panutan dan suri tauladan umat islam, maka siapapun yang menghina, melecehkan, merendahkan itu merupakan tindakan terorisme terhadap umat islam. Tindakan radikalisasi atas nama agama ini harus segera dilawan dan dihapuskan demi menjaga kedamaian dunia. Akan menjadi persoalan yang serius jika hal ini tidak dihentikan dengan cepat dan tegas. Konflik antar agama akan sangat berpotensi menyebabkan kekacauan dunia bahkan hal yang paling berbahaya adalah potensi konflik yang membuat negara-negara di seluruh dunia sampai mengangkat senjata. Tentu hal itu yang harus dihindarkan demi menjaga keharmonisan beragama dan bernegara.

Namun, di satu sisi umat Islam juga harus kritis melihat kondisi ini. Penghinaan terhadap Nabi Muhammad Saw adalah suatu bentuk panggilan bahwa umat islam harus bersatu dan melupakan perbedaan-perbedaan yang justru menimbulkan konflik internal di dalam tubuh islam itu sendiri. Adanya musuh bersama adalah bentuk bahwa umat Islam harus bersatu melawannya.

Ada suatu ungkapan yang menyebutkan.

“kebenaran adalah milik kekuasaan dan untuk berkuasa maka kekuatan adalah sesuatu yang mutlak diperlukan”.

Artinya apa, penghinaan terhadap nabi Muhammad Saw ini terjadi karena adanya power and strength yang dimiliki oleh pihak yang melakukan penghinaan tersebut. Penghinaan itu terjadi karena umat Islam dianggap tidak memiliki power and strength didalam kelompoknya. Selain dari faktor kebencian, kedua faktor tersebut bisa dikatakan adalah salah satu pengaruh mengapa Islam sering menjadi sasaran empuk penghinaan dan penistaan, bahkan paham-paham ekstrimisme tentang agama selalu dikaitkan dengan Islam. Maka untuk menyikapi itu umat Islam harus menunjukkan power and strength yang dimilikinya dengan cara bersatu membentuk barisan dan memperlihatkan bahwa Islam itu tidak kecil, Islam itu ada dimana-dimana, Islam memberikan kedamaian dan cinta akan kedamaian. Sehingga ketika ada power and strength yang ditunjukan oleh umat Islam maka dengan begitu tidak dengan mudah lagi Islam dilecehkan dan dinistakan oleh pihak manapun.

Terlepas dari bagaimana umat Islam harus bersikap, yang lebih ditekankan dalam tulisan ini ialah memberikan seruan kepada masyarakat dari agama manapun bahwa radikalisasi agama, kebebasan berpendapat yang berpotensi merusak kesucian agama adalah bentuk sikap yang diluar batas kewajaran manusia sabagai mahluk sosial yang seharusnya menjaga perdamaian dan persatuan. Radikalisasi agama, penistaan terhadap agama, pelecehan terhadap tokoh-tokoh dalam agama dengan alasan apapun adalah bentuk tindakan yang mendegradasi nilai-nilai suci dari agama itu sendiri. Perilaku ini harus di lawan karena hanya akan menyebabkan kekacauan dunia serta dapat menimbulkan konflik yang berkepanjangan dan merusak keharmonisan beragama dan bernegara.

Dan untuk menutup tulisan ini, mari kita bersholawat.

allahummashollia’ala Muhammad waala alisayyidina Muhammad”.


Penulis : Indrawan Nur Fuadi

Sabtu, 05 September 2020

Terkutuk Aku


Aku terjaga bersama malam sunyi
Gelap dan sepi seperti memeluk
Sinar bulan menyelinap masuk
Melalui lubang-lubang kecil disudut kamarku
Menjelma cahaya terang, mengusir gelap
Cahaya ini menyerupai wajahmu
Merindu aku, mengingatmu
Dalam sunyi, dalam sepi
Mengutuk diriku!
Masih mencintaimu…


Sabtu, 22 Agustus 2020

Kembali

 

Lebih dari satu purnama telah berlalu
Membentangkan jarak kau dan aku
Resah di dadamu perlahan menghilang
Seperti teka-teki yang telah terjawab
Namun, masih juga semu
Begitu pula rindu, ku diamkan!
Hanya ku sampaikan dalam sajak-sajak puisi
Kadang ku nyanyikan lagu rindu
dalam sunyinya malam
Bukan untukmu, tapi untukku
Menyesali luka yang telah ku tinggal

Bagaimana kabarmu?
Coba lihat, tanda tanya itu!
Pertikaian antara keegoisan dan anganku
Memilikimu, sekali lagi!

Persaksian Semesta